Tuhan menciptakan mahkluk semua sempurna.
Kuranglah tepat bila berkata," Alloh swt menciptakan manusia maha sempurna dibandingkan dengan mahkluk lain seperti setan atau malaikat."
Ciptaan Alloh semua sempurna, kesempurnaan ciptaan disesuaikan dengan tugas dan fungsinya dan kehendak Alloh.
Tuhan menciptakan mahkluk bernama setan sebagai penggoda manusia yang sempurna. Tuhan menciptakan mahkluk bernama malaikat sebagai mahkluk yang taat sempurna dan sudah terprogram ketaatannya. Tuhan menciptakan mahkluk bernama manusia menjadi khalifah (penguasa) di bumi yang sempurna yang diberikan akal dan nafsu agar bisa memilih jalan hidup yang terbaik, berkreasi dan menciptakan sesuatu untuk kelangsungan dan kemakmuran hidupnya.
Sebaik-baiknya bentuk mahkluk ciptaan Tuhan di bumi adalah manusia yang mempunyai fiisik dan psikis yang sempurna.
Level setan yang menggoda manusia disesuaikan dengan tingkat keilmuan dan keimanan manusia itu sendiri. Bila tingkat keilmuan dan iman manusia semakin meningkat tentu si penggoda setan juga tingkatannya lebih tinggi lagi. renungilah...
-------------

Ikhlas Tanpa Batas
Editor:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Kedekatan seorang hamba dengan Tuhan (Allah SWT) terletak dan terukur pada ketulusan atau keikhlasan dalam melakukan 4 cakupan yaitu dalam shalat, melakukan ibadah, menjalankan kehidupan dan menempuh kematian.

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An'am: 162).
Siapakah yang paling tahu tentang keikhlasan ini?, yang paling tahu ikhlas tidaknya amal adalah pribadi yg melakukannya dan Tuhan yang Maha tahu. Selain itu hanya mendapatkan kesan saja atas perilaku yang dikerjakan.
Kehidupan manusia tidak terlepas dari suka dan duka, sedih dan gembira, menangis dan tertawa, baik pada siang dan maupun malam. Kita menerima apa yang diberikan oleh Tuhan dengan ikhlas, begitu juga dalam ber-amal atau menafkahkan sesuatu dibarengi dengan ikhlas.
Ikhlas tanpa batas merupakan cara menjalankan kehidupan dengan tulus dan wajar.
Yang bagaimana ikhlas tanpa batas itu?, ada beberapa pendapat mengenai hal ini yang dapat menjadi referensi buat kita dalam bersikap, bertingkah laku dan berorientasi kedepan.
“ Ikhlas adalah inti amal dan penentu diterima-tidaknya sesuatu amal di sisi Allah yang Mahatahu. Amal tanpa Ikhlas bagaikan kelapa tanpa isi, raga tanpa nyawa, pohon tanpa buah, awan tanpa hujan, anak tanpa garis keturuann, dan benih yang tidak tumbuh.”
(Syech Abi Thalib al-Makki)
“Dalam beramal didunia ini, janganlah kamu meninggalkan keikhlasan karena Allah semata. Amal ikhlaslah yang akan mendekatkanmu kepada-Nya dan memutuskanmu dari selain-Nya."
(Imam al-Junayd al-Bagdadi)
“Setiap amal tanpa keikhlasan ibarat kulit biji yang tak berisi, ibarat keranda tak bernyawa, dan ibarat gambar tak bermakna.”
(Syekh Abd al-Qadir al-Jaylani)
Nilai sebuah amal atau perbuatan ditentukan oleh seberapa tulus niat kita.
Perbuatan yang dimaksud tentu adalah termasuk hal-hal yang termasuk ketaatan atau perkara yang dibolehkan, bukan hal yang dilarang. Tak ada ikhlas untuk perbuatan-perbuatan yang tergolong kemaksiatan.
Tulusnya amal diukur baik sebelum, selama dan setelah kita berbuat. Kita harus tulus di ketiga tahapan ini, dan tak hanya salah satunya.
TULUS SEBELUM BERBUAT berarti kita berniat untuk melakukan suatu perbuatan demi Allah semata, bukan demi memperoleh pujian, penghargaan ataupun balasan dari orang , bukan pula demi harta, jabatan atau popularitas dimata khalayak. Tulus sebelum berbuat juga berarti berkehendak melakukan sesuatu perbuatan bukan karena dorongan emosi negative (seperti kemarahan) dari dalam diri, atau karena ingin bereaksi atas suatu situasi (seperti karena di komentari atau dimaki-maki)
TULUS SELAMA BERBUAT berarti kita membaguskan perbuatan kita hanya karena keteringatan pada Allah, bukan karena keteringatan kita pada manusia; karena merasa senantiasa diawasi oleh Allah; bukan karena merasa sedang di amati oleh manusia.
Tulus selama berbuat juga tidak berarti tidak berbuat dengan malas – malasan (saat sendiri atau tampak oleh orang), dan tak gampang mundur, panik atau putus asa saat bertemu kesulitan atau kendala. Tulus selama berbuat juga berarti berbuat tanpa membayangkan bagaimana kita akan di nilai, dipuji, atau dihormati ketika nanti menyudahi perbuatan tersebut, ataupun sebaliknya resah membayangkan anggapan orang-orang yang nantinya meremehkan.
TULUS SETELAH BERBUAT berarti tetap mengingat Allah saat disanjung ataupun dicela; tak sombong saat dipuji, dan tak kesal saat dimaki. Kita menisbahkan kemampuan berbuat kepada Allah, dan bukan pada kemampuan kita sendiri, menyerahkan hasil perbuatan kita kepada Allah, dan tidak memandang bahwa hasilnya harus seperti harapan atas kemauan kita. Tulus setelah berbuat berarti kita tak berharap balasan, pujian ataupun ucapan terima kasih. Tulus setelah berbuat juga berarti tak mengungkit-ungkit perbuatan yang telah lalu, tak memamerkannya atau menyombongkannya dalam hati, dan tak tersinggung kalaupun tak disebut-sebut oleh orang.
Inilah ikhlas tanpa batas yakni ikhlas dalam segala hal dan dalam segala perbuatan; suatu ikhlas yang menjadi ekspresi tauhid, yakni ikhlas sebagai pemurnian hati dari segala syrik, dari syrik besar hingga syrik yang sekecil-kecilnya, dari syrik yang nyata hingga syrik yang samar-samarnya.
Orang yang tulus hanya bergantung kepada Allah, tidak menjadikan amalannya sebagai sandaran kemajuan spriritualnya, hanyalah mendambakan Wajah-Nya, tidak menjadikan syurga sebagai pemacu semangat beramalnya.
“seperti halnya jasad tak bernilai tanpa ruh, demikian juga amal, ia tak bernilai tanpa niat. Niat adalah hatinya hati. Kalau saja niat tak bertempat di hati, entah seperti apa nilainya hati.” ( Syekh Abu thalib al-Makki).
PERBUATAN ITU TERGANTUNG PADA NIATNYA
Inti amal shaleh adalah keikhlasan hamba-hambanya karena Allah dalam niatnya. Karena itulah, ulama salaf suka mengawali majelis dan kitab mereka dengan hadis, ” Perbuatan itu bergantung pada niatnya.” Kita perlu mengikuti tradisi mereka ini karena merekalah generasi islam terbaik.
Poros Islam terletak pada tiga kriteria dalam inti perbuatan:
1. Segala perbuatan itu bergantung pada niatnya
2. Siapa melakukan amalan yang tidak diperintahkan, maka tertolak.
3. Yang halal itu jelas, dan yang haram pun itu jelas
Sesungguhnya agama berarti melakukan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Alllah larang.
Ada dua macam yang Allah perintahkan sebagai berikut:
1. Amal lahir, yakni apa yang diwajibkan atau dianjurkan
2. Amal bathin, yakni ikhlas karena Allah.
YANG PALING BAGUS AMALNYA yaitu yang paling ikhlas dan benar amalnya.
Kalaupun amal dilakukakan dengan ikhlas, namun tidak benar, maka tidaklah diterima; dan kalaupun dilakukan dengan benar, namun tidak ikhlas, tidaklah diterima; yang diterima adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan benar sekaligus.
IKHLAS berarti dilakukan karena Allah; BENAR berarti dilakukan berdasarkan sunah. Seperti yang terdapat dalam Al-Quram,” Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah beramal shaleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi:110)
Amal shaleh adalah yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, baik perintah wajib maupun anjuran, sedangkan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Allah berarti ikhlas karena Allah.
“ Barang siapa yang berserahdiri kepada Allah sedangkan ia pelaku ihsan, maka sungguh ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh.” (QS:Luqman:22)
Berserah diri kepada Allah mengandung pengertian mengikhlaskan amal karena Allah, sedangkan ihsan karena membaguskan amal karena Allah, yakni mengerjakan amal karena diperintahkan, sebagamana di firmankan,”Kami tentu tak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang membaguskan amalnya.” (al-Kahf:30)
“ Tidak mengawali perbuatan dengan niat sama saja dengan tidak berbuat. Engkau berdosa ketika berbicara atau diam bila bicara dan diammu tidak disertai dengan niat baik. Tanpa niat baik, bicaramu dan diammu tidaklah sesuai dengan sunah Rasullullah saw.” (Syekh Abd al-Qadir al-Jaylani)
Niat itu membedakan amal yang satu dan amal yang lain, dan membedakan orang yang satu dan orang yang lain, tapi niat sejati itu ada dalam hati. Ikhlas pun karenanya ada dalam hati.
Ikhlas versus Ria
Ikhlas sering diartikan sebagai tidak ria dalam beramal. Ria adalah syrik kecil. Ria bisa melanda baik pendamba dunia maupun pendamba akhirat.
Ria termasuk penyakit hati yang menyebabkan kekufuran. Orang yang ria biasanya berusaha mencari kesuksesan di dunia ini dengan melakukan berbagai ibadah, kemudian mengabarkan kesalehannya itu kepada orang lain. Memberitahukan amal kita kepada orang lain, tanpa mereka menanyakannya dan bukan dengan maksud mengajari atau memperbaiki pemahaman keagamaan mereka, termasuk sikap ria.
Ria adalah salah satu perwujudan sifat nifak (munafik), yaitu berusaha menampilkan suatu sikap yang bertentangan dengan kenyataannya. Lawan ria adalah ikhlas atau ketulusan hati yang merupakan dasar keberagamaan. Ikhlas berarti berbuat dan berperilaku selaras dengan iman. Sikap ikhlas lahir dari kesungguhan untuk mencari jalan keselamatan dan kedamaian di dunia dan diakhirat serta didorong oleh kehendak yang kuat untuk mendekati Allah.
Orang yang ikhlas akan menjaga segala tindakan, ibadah dan kesalehan lainnya agar tetap tak tampak dan luput dari perhatian manusia.
Orang yang ikhlas akan mendapatkan balasan karunia yang besar dari Allah di dunia ini, berupa kepuasan bathin karena selalu merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah. Rasululloh mengatakan,” Apabila kau tak sanggup melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Muslim dari ibnu Umar).
Ada banyak ciri kemunafikan dalam diri kita. Tubuh merupakan sarana yang paling sering digunakan untuk menampilkan kemunafikan. Misalnya kita memelihara agar tubuh kita tetap kurus sehingga orang menyangka kita sering berpuasa dan shalat malam; muka yang pucat kita jadikan alat untuk menampilkan kesalehan dengan mengatakan bahwa pucatnya muka kita disebabkan oleh rasa takut dan cinta kepada Allah; kita rendahkan suara dan kita tundukkan pandangan agar orang lain menyebut kita orang yang rendah hati; atau kita berpura-pura bingung agar dianggap sering tafakkur, dan seterusnya.
Ciri-ciri itu berbeda dengan ciri nifak dalam lingkup keduniawian, yang diantaranya meliputi tubuh yang subur, pipi merah, muka yang senantiasa cerah ceria dan percaya diri, penampilan rapi, dan seterusnya.
Memperindah tampilan dan pakaian dapat mendorong kita pada kemunafikan. Pakaian yang rapi, bermode dan indah, dikenakan untuk menarik perhatian orang, perilaku santun dan ramah, yang ditampakkan agar orang bersimpati , merupakan tanda-tanda kemunafikan dalam lingkup duniawi.
Kendaki demikian, kemunafikan pun sering tampak pada orang yang berpura-pura zuhud; memakai pakaian yang tak layak, robek-robek atau penuh tambalan, rambut panjang tak terurus, dan sepatu usang, yang semuanya menampakkan bahwa ia tak punya waktu mengurusi dirinya karena sibuk beribadah kepada Allah. Ketika seseorang memintanya agar mencuci dan menyisir rambutnya serta menawarinya pakaian yang layak, ia menolaknya. Ia cemas bila orang –orang menganggap dirinya memperdulikan perhatian orang. Ia enggan memperhatikan dirinya seperti kebanyakan orang.
Meski demikian, orang munafik seperti ini tidak akan ragu mengubah penampilannya sesuai dengan harapan orang yang memuliakan dan menghormatinya. Ketika berkesempatan untuk berdampingan dengan penguasa penting atau orang kaya, ia akan mengubah penampilan dan cara berpakaiannya agar diakui oleh lingkungan itu. Ia khawatir pakaiannya yang kotor dan robek-robek itu membuat orang penting itu menjauhinya. Sebaliknya, ketika berada di lingkungan orang-orang shaleh, ia kenakan kembali pakaian zuhudnya.
Orang munafik akan menata lingkungannya untuk menciptakan kesan tertentu di mata manusia. Orang yang munafik dalam hal duniawi mengendarai kendaraan mewah, tinggal di rumah mewah, menjamu tamu-tamunya dengan meja jamuan yang tertata mewah. Tetapi , ketika sendirian di rumahnya, di dapur ia makan sisa-sisa hidangan dengan rakusnya.
Orang yang munafik dalam hal duniawi ataupun agama gemar menjual diri ke masyarakat umum dengan membangga-banggakan kedudukan penting dan terhormat yang diraih leluhur mereka. Padahal , semua itu sama sekali tidak berguna dan tidak mempengaruhi keadaan mereka saat ini.
Orang munafik yang berambisi meraih kemuliaan dan keagungan dalam beragama akan berusaha keras memberikan kesan bahwa ia bijak dengan mengatakan secara terbuka tanpa diminta, serta mengungkapkan kata-kata dan kalimat rumit yang susah dipahami. Ia menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dan hadist Nabi secara panjang lebar sehingga makna sejatinya hilang atau berubah total. Ia mencela dan mengkritik orang lain kerena melakukan apa yang dilakukannya, serta menuduh mereka salah memahami Al-Quran. Ia bertingkah laku seolah-olah menguasi Al-Quran dan ribuan hadist, melibatkan diri dalam debat-debat yang tidak beralasan, menyerang orang lain, menyebutkan para ulama yang terkenal serta mengakuinya sebagai guru atau kawannya. Ia ceritakan pengalaman pribadinya dalam beribadah secara panjang lebar. Bahkan, apabila sedang diam pun, ia gerakkan bibirnya seolah-olah sedang berzikir. Ia tunjukkan kemarahan yang besar atau cucuran air mata ketika melihat atau mendengar kejahatan yang dilakukan orang lain. Ia keraskan suaranya sebagai tanda kenikmatan mendalam selagi membaca bacaan dalam shalat berjamaah. Dalam praktik semacam ini dan ibadah lainnya, ia berharap dapat memperlihatkan kelebihannya di atas, atau ke berbedaannya dari orang beriman lainya.
Mengevaluasi NIAT menakar KETULUSAN
Seluruh kebaikan terbagi menjadi dua yaitu yang rahasia dan yang tampak. Siapa tidak mampu memperbaiki amalnya yang rahasia, maka ia akan lebih tidak mampu memperbaiki amal yang tampak. Siapa kuasa memperbaiki amalnya yang tampak, berarti ia telah lebih lihai dalam memperbaiki amal yang rahasia.
Demikian pula halnya dengan amal yang banyak dan sedikit. SIAPA TIDAK MAMPU MEMPERBAIKI NIAT DALAM AMAL YANG SEDIKIT, MAKA IA AKAN LEBIH TIDAK MAMPU DALAM MEMPERBAIKI AMAL YANG BANYAK.
Siapa tidak mampu meninggalkan ria pada amal yang akan ia jalani, maka ia tidak akan mampu bersikap ikhlas dalam amal yang karenanya ia telah mendapatkan pujian, penghormatan, dan penghargaan.
Ini berlaku dalam segala hal. Meninggalkan apa yang belum pernah engkau miliki lebih mudah dari pada meninggalkan apa yang telah engkau miliki.
Siapa yang paling sejati niatnya?, Orang yang paling cinta niat.
Siapa yang paling jauh dari niat sejati?.Orang yang paling jauh dari niat adalah adalah orang yang paling melupakan niat. Orang yang paling melupakan niat adalah orang yang paling tidak tahu tentang niat.
Tanda ria yang pertama adalah menganggap sepele ketidaktahuan tentang ketulusan niat dalam amal. Tanda ketulusan yang pertama adalah rasa ingin tahu mengenai ketulusan niat dan keikhlasan beramal.
Nabi Muhammad saw bersabda,” Amal itu tergantung niat.” Beliau juga bersabda,” Hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat yang tersembunyi.”
Bagaiaman dengan seorang hamba yang mempelajari bagaiamana beramal dan mau menanggung beban beramalsehingga ia beramal dengan apa yang telah diketahuinya, tetapi ia tidak belajar bagaimana semestinya berniat; kemudian ia mempelajari ilmu yang diamalkan dan ilmu yang tak diamalkan, sementara ia tidak mempelajari ketulusan niat, baik dalam amal yang dilandasi niat maupun tidak?
Bila begitu, ia hidup karena memang ia hidup dan mati jika memang harus mati, dan ia pun tidak pernah memperdulikan hal semacam ini. Rasululloh saw , para imam, para ilmu, dan ahli makrifat setelah beliau, selalu mengingatkan tentang bahaya ria sehingga seorang dari mereka pernah berkata,” Aku masuk rumah gelap dan shalat dua rakaat di dalamnya dengan harapan mudah-mudahan shalat itu menyelamatkan diriku.”
Al-Tsawri pernah berkata,” Aku tidak pernah melakukan suatu pekerjaan yang dilihat banyak orang,” seandainya kami menulis hal seperti itu di sini, niscaya butuh berlembar-lembar kertas.
Orang yang mengetahui ria dirinya akan lebih memilih sembunyi. Ia akan memperhatikan dan mewaspadainya siang malam. Toh, dengan begitu pun bisa saja hal-hal yang mengecoh dan mengalahkannya lebih banyakdibanding apa yang menjadi keinginannya. Lalu bagaimana dengan orang bodoh dan mengabaikannya?.
Betapa sering seseorang beramal, lalu ia menganggap dirinya tulus di dalamnya. Padahal, ketulusan yang diakuinya tidak pernah jelas kecuali setelah berlalu sepuluh tahun.Jika aku mau, aku katakan lima puluh tahun. Sepuluh, lima puluh, atau seratus tahun sama saja.
Seperti apa contohnya?
Seperti seseorangyang ingin bersedekah atau menolong orang lain. Kemudian ia beranggapan bahwa ia mengharapkan ridla Allah dengan hal itu, dan ia tidak pernah menginginkan balasan dan ucapan terima kasih. Ketika tampak suatu kebutuhan orang itu yang belum terbantu, lalu ia memenuhi kebutuhannya dan menolongnya ketika ia belum terpenuhi kebutuhannya. Kemudian ia mengingat-ingat sedekahnya kepada orang itu dalam hati. Lantas ia mendapati orang itu tidak pernah memberinya. Karena itu, ia merasa telah memenuhi kebutuhan orang yang tidak pernah bersedekah atau berbuat baik kepada dirinya. Pada saat itu, ketulusannya semakin jelas bedanya dari rasa pamrihnya, dan bisa saja itu terjadi setelah berselang lama.
Atau seperti seseorang yang menjadi ahli ibadah selama lima puluh tahun. Ia melihat dirinya sebagai orang yang tulus dalam beribadah, tidak pernah menginginkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih, baik dalam hal-hal yang tampak. Suatu ketika, penyakit tumbuh dalam jiwanya. Orang-orang mencatat nama-nama kaum shaleh, tetapi mereka tidak menulis namanya atau mereka menulisnya di deretan akhir.
Mereka mendahulukan orang-orang yang tidak sepertinya dalam beribadah, maka dalam hati ia mengingkari hal itu. Akhirnya, antara ketulusan dan pamrih dalam ibadah semakin nyata perbedaannya. Dalam kasus - kasus lain seperti ini, terbukti dengan jelas bahwa orang tersebut menginginkan balasan dan apresiasi.
Setiap amal yang pelakunya tidak awas terhadapnya, tidak pernah mengujinya, tidak pernah melakukan tes terhadapnya, dan tidak pernah memeriksanya, adalah amal yang masih samar. Sesuatu yang samar tidak akan pernah jelas hakikatnya kecuali bila di uji.
Manusia itu akan diperhitungkan sesuai dengan kadar ilmu dan kebodohan mereka, kebaikan dan keburukan mereka, serta kadar perintah dan larangan yang mereka kerjakan dan tinggalkan.
Terima kasih.
|